Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pertarungan Selama 14 Jam Pasca Operasi

April 14, 2026 | April 14, 2026 WIB Last Updated 2026-04-14T08:42:59Z
JAKARTA ll Dua Minggu sudah tidak mengkonsumsi obat pengecer darah.Syarat utama untuk operasi penyempitan saluran air seni.

Hari H pun sudah terkonfirmasi dari Rumah Sakit Umum Daerah/RSUD Budhi Asih, Jalan Dewi Sartika Kramat Jati Jakarta Timur.
Sebelum hari H, Minggu, 5 April pukul 15.00 WIB,
kami sudah tiba di RSUD Budhi Asih didampingi anak kami nomor dua Ade Jun Firdaus Panjaitan, M.H.Tujuannya mendaftar kembali untuk memperoleh kamar penginapan.
Rupanya, sore itu banyak pasien yang rawat inap untuk persiapan operasi medis.Hampir satu setengah jam kami menunggu di kursi pengunjung yang luas di lantai 1 gedung A.

Pada hari biasa, proses pendaftaran ribuan pasien yang terjadwal melalui daring/online paling lama satu jam sudah mengantongi nomor pelayanan di poliklinik umum atau klinik.

Dengan target, semua pasien di lantai 2 sudah terlayani oleh para dokter spesialis sekitar pukul 13.00 WIB.

Karena tenaga dokter spesialis RSUD Budhi mencapai 70 orang.Mereka terdiri dari dokter spesialis fsiotrapi dan rehablitasi medik, spesialis mata, spesialis gigi dan mulut, spesialis kulit/kecantikan dan kelamin, spesialis penyakit dalam, spesialis telinga, hidung dan mulut, spesialis paru, spesialis jantung, spesialis urologi dan bedah, spesialis saraf dan psikiatri, spesialis kandungan dan anak, spesialis orthopedi, spesialis urologi.
Sebagai rumah sakit tipe B dengan meraih sertifikasi Prima, tergolong cepat maju dengan peralatan medis yang canggih.Yang bisa kami saksikan dua kali seminggu di Poliklinik Umum Rehablitasi Medik yang berada di dua ruangan gedung A dan gedung B.Tiap hari kerja, pasiennya mencapai 300 orang.
Ternyata kecanggihan fasilitas medis lebih canggih lagi di ruang bedah lantai 3 gedung A.

Dari pintu masuk sebelah selatan terkesan sudah ketinggalan dari faktor bangunan.Karena ruangan operasi bedah ini memang sudah berusia 37 tahun sejak diresmikan menjadi RSUD Budhi Asih tahun 1989.Sebelumnya dikenal Rumah Sakit Sosial Jakarta Timur tahun 1962.
Sejarah rumah sakit sosial ini secara tidak langsung mempengaruhi pelayanan seluruh tenaga medis dan dokter.
dalam pelayanan rehabilitasi medik dan fsiotrapi, dokter dari RS Sosial seperti dr Elisabeth Pasaribu, 
RFM kini masih aktif sebagai Kepala Bagian Rehabilitasi Medik. Motto RSUD Budhi Asih, Melayani dengan senang hati-dapat dirasakan ribuan pasien yang memilih rujukan berobat ke rumah Sehat Untuk Jakarta ini.

Apalagi ada rencana pengembangan dan revitalisasi yang digulirkan Gubernur DKI Jakarta Dr Pramono Anung,

RSUD Budhi Asih bisa menjadi pilihan utama rujukan berobat di wilayah Jakarta Timur.

Kembali ke ruang bedah di lantai 3.Sesuai jadwal,didampingi putra sulung kami St Horas Krippen Panjaitan, ST,
saya sudah menjalani puasa sejak Senin tengah malam (6/4/2026). 

Infus dilakukan pukul 05.00 WIB dengan cairan kristaloid.
Kami berada di Paviliun Bougenville lantai 8 kamar 13, gedung A dengan fasilitas dua tempat tidur. 

Pukul 06.00, serapan pagi sudah tersaji di meja tempat tidur.Usai serapan pagi, tensi darah diukur lagi.Hasilnya dianggap normal 152/80.Pada usia kami mau menginjak 74 tahun, 9 Juni 2026.
MUNCUL RASA TAKUT
Dengan kursi roda, tenaga perawat pria tak hapal namanya mengantarkan saya turun dengan lift ke ruang bedah lantai 3.

Setelah buka sandal, langsung menuju meja administrasi untuk tes tekanan darah lagi.Ternyata, masuk ruang bedah mempengaruhi psikologis.Tiba-tiba muncul rasa ketakutan.
Akibatnya, tekanan darah tercatat 180/90. Berarti melewati batas toleransi maksimal 140/90 mmHg.

Tindakan operasi saluran air seni yang seyogianya pukul 08.00 terpaksa ditunda.
Namun demikian,
kami tetap di ruang tunggu operasi sambil menyenangkan pikiran di atas bed roda.
Mantu kami Michael Sony Siahaan, M.Kom mencari lagu-lagu rohani lewat handphone agar kami bisa rileks sambil berdoa.

Satu jam kemudian, tekanan darah masih belum aman dengan 170/90 mmHg.

Istirahat lagi sampai pukul 12.30 WIB.Kami hanya tinggal dua orang dari delapan pasien yang diistrahatkan di ruangan tunggu.

Yang lainnya sudah selesai tindakan operasi.
Jelang pukul 13.00, saya dipindahkan ke
 bed spesial setelah tekanan darah dianggap aman,Lalu didorong masuk ruang operasi.

Anak perempuan kami, suster Rohana Meyelda Panjaitan dari klinik Rontgen yang sengaja datang memberi semangatku tak bisa ikut keruang operasi. 

Tiga dokter spesialis urologi: dr Tri Endah Suprabawati, Sp.U, dr Willy Irawan Sp.U, dr Cindy Wijaya, Sp. U, dr Dyra Sp.U, dokter spesialis anestesi bersama tenaga perawat/Ners sudah siap menunggu di ruang operasi. Jumlah mereka delapan orang kalau tidak salah.
Pertanyaan pertama yang diajukan di ruang operasi, 

Apakah sudah pernah menjalani operasi di ruangan ini? Saya jawab: 
Belum pernah,Sudah siap untuk tindakan operasi? "Benar, saya sudah siap,"imbuhku sembari mengamati beberapa lampu sorot bentuk lingkaran di atas kepala.

Dalam hitungan menit, tim dokter dan para medis berbagi tugas.
Kedua kakiku diangkat ke atas penyanggah khusus.

Separuh tubuh ditutupi dengan kain warna hijau sehingga tim dokter tidak merasa terganggu atas pengamatanku.

Lalu tenaga medis melakukan penyuntikan obat bius melalui urat tulang punggung.Begitu obat bius sudah tersalur,
langsung tidak terasa apa-apa lagi. Mulai dari pinggul hingga ujung jari kedua kaki.

Karena tidak terasa apa pun yang dilakukan tim dokter, pikiranku melayang setelah lebih dahulu berdoa kepada Tuhan Allah Maha Pengasih agar tindakan operasi berjalan lancar.

Ada layar tv monitor di atas kepala bagian kanan merekam tindakan operasi tim dokter spesialis tersebut.
Sayang,pikiran tidak tertuju ke sana sehingga tidak terekam di otak ini.

Kurang lebih satu jam, tim dokter memberitahu,
tindakan operasi sudah selesai dan boleh kembali ke ruang inap kamar 813.Puji Tuhan, 
Terima kasih kepada tim dokter spesialis dan para tenaga medis profesional yang cekatan.
Saya kagum melihat tenaga dokter spesialis yang masih muda-muda, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/UI Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat.

Sebelum mereka ditempatkan ke RSUD Budhi Asih, umumnya para dokter spesialis muda itu sudah beberapa tahun praktek di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo/RSUPCM Jakarta.
Yang juga disebut rumah sakit Fakultas Kedokteran UI di Jalan Salemba Raya.

HARUS PUASA 24 JAM
Tepat pukul 14.30 WIB, dengan bed khusus, kami kembali didorong naik lift ke ruang inap 813.Karena keteter sudah terpasang dengan pipa saluran air seni,

otomatis harus puasa lagi hingga Selasa pagi (7/4/2026). 
Selain itu, di bagian paha sebelah kiri diinfus dengan obat cairan antinyeri yang tersambung ke saluran pipa air seni. Sedang infus di atas jari tangan kiri masih tetap dilanjutkan.

Agar proses pendarahan pascaoperasi cepat normal,
kami diingatkan tenaga medis/Ners: Kaki kiri tidak boleh digerakkan sampai pagi hari.
Tantangan ini memang berat,bisalah dibayangkan,selama 14 jam kaki kiri tidak boleh digerakkan.

Dengan menahan rasa nyeri pascaoperasi, suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Karena sepanjang malam, sekejab mata pun tak bisa tidur.

Istri tercinta Sinta Pasaribu, S.Pd (Op Malona boru) dan keponakan Desy br Pasaribu yang menjaga malam itu, 
tak setuju lagu-lagu rohani dihidupkan melalui handphone.

Takut terganggu mereka tidur pulas,Suster jaga pun minta kami agar pejamkan mata dan berusaha tidur.Tidak bisa juga walaupun sudah berdoa.

Dengan pertarungan berat hingga dokter Tri Endah Suprabawati Sp.U tiba untuk kontrol pukul 06.00.

Sukses,tidak menggerakkan kaki kiri selama 14 jam sesuai nasihat tenaga medis..! 
Seharusnya,kata dokter Tri Endah,
cukup 10 jam saja kaki kiri tidak bergerak,Hasil tes urine hingga pukul 03.00 masih becampur darah. Barulah Selasa pagi, urine tampak sudah kuning menuju bening.

Itu berkat banyak minum air mineral dibantu obat antibiotik dan obat antinyeri.
Karena urune sudah kuning, infus di kaki sebelah kiri pun dicabut.

Merasa lega,Sudah bebas menggerakkan kedua kaki.
Serapan pagi sudah boleh asal tidak bangkit duduk.Berarti selama 24 jam puasa total.
Tidak masalah. Karena nutrisi tetap masuk melalui infus selama dalam perawatan.

Walaupun tidak terasa lapar,
pendampingku atau parsonduk bolon Op Malona boru dengan sigap menyuapi serapan pagi habis serapan,
suster yang baik hati ngelap tubuh yang tidak diguyur air mandi satu hari penuh.Kemudian, diperbolehkan duduk di tempat tidur.

Mulailah terasa ngantuk dan tidur pulas selama satu jam,
membuka handphone pun sudah diijinkan. Beban berat selama 14 jam lepas sudah. 

Kegiatan rutin menjelajahi berita-berita penting dan merespon pengikut akun kami di Facebook.
Terutuma my story yang diupayakan hadir tiap hari di media sosial sudah normal kembali.

Tapi, sebelum santap siang, kami dibezuk tulang naposo Mayor Jenderal Rony Pasaribu, MA/Rully br Marpaung yang berdomisili di Condet,sekitar tiga kilo meter dari RSUD Budhi Asih.

Karena dalam proses pemulihan,
saya hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Padahal, 
nyonya minta tidak perlu diberitahu kepada keluarga prihal operasi itu karena dianggap ringan.

Tapi demikianlah, 
Dengan senang hati,
kami sambut baik kunjungan tulang naposo Mayjend Rony yang sebenarnya sedang pemulihan pascaoprasi sebulan lalu.
Berkat doa yang dibawakan nantulang naposo Rully br Marpaung tentu membawa semangat baru.

Kemudian menyusul bisuk pariban kami St Drs AJ Sinaga, M.Pd yang sudah dua periode menjadi Sekretaris Punguan Lansia HKBP Kramat Jati.

Usai memimpin doa, dia pamit untuk pemeriksaan kesehatan rutin di klinik penyakit dalam.
Berselang beberapa jam,Ketua Punguan Lansia St Marudut Sitinjak, M.Pel/Varianti br Sirait, M.Pd bergiliran membesuk kami.
Karena belum ada pasien baru masuk kamar 813, tak terasa satu jam lebih kami bisa berbincang panjang lebar.

Kebutulan, kami satu rombongan dari Lansia HKBP Kramat dalam wisata rohani ke Tanah Perjanjian/Holy Land, 28 Oktober hingga 7 Nopember 2024.

Terima kasih doanya, 
Bapak St Marudut Sitinjak, kesehatan kami semakin membaik.
Esok harinya,
Rabu pagi, 8 Oktober 2026 sebelum pulang ke rumah, 
tiba-tiba Direktur RSUD Budhi Asih dr Dyah Eko Judihartanti MARS Fisqua, 
bersama boru kami Suster Meyelda Panjaitan dan pahompu Junita br Panjaitan dari bagian manajemen rumah sakit menyisihkan waktu sejenak membezuk kami.

Suatu kehormatan bagi kami, di tengah kesibukan kerja Direktur masih berkenan mengunjungi pasien.

Juga mengirimkan parcel buah yang segar, menambah kesan khusus dan patut kami apresiasi dengan setulus hati.Matur nuhun Ibu Direktur.

Kiranya Tuhan memberkati RSUD Budhi Asih yang Ibu pimpin.Dengan visi Pelayanan bermutu dan aman; 
Berorientasi pada keselamatan pasien; 
Memberikan layanan terpadu dalam satu atap.

Hati kami berbunga-bunga lagi karena selang keteter yang terpasang selama satu Minggu, Senin pagi 13 April 2026, 
sudah dilepas tenaga medis di bawah bimbingan dr Dyra Sp.U.

Hanya dalam hitungan tiga menit saja.Aman dan bebas lagi bergerak setelah istirahat di rumah selama lima hari.

Pulang dari rumah sakit pun tak perlu pendamping, menumpang angkutan umum Mikrolet 06 ke depan PGC Cililitan.

Selanjutnya, menikmati angkutan umum mini Trans Jaklingko 75 sampai ke rumah Kampung Pulo Asri Pinang Ranti Jakarta Timur.

Sampai jumpa kembali dalam pelayanan medis dengan hati yang tulus dari para dokter spesialis dan para tenaga medis RSUD Budhi Asih di bawah manajemen yang baik dan profesional.


( Hardi / Ludin.P )
×
Berita Terbaru Update