JAKARTA ll Pengalaman berharga di RSUD Budhi Asih,
Tindakan terhadap penyempitan saluran air seni kami seharusnya tanggal 16 Maret 2026.Sudah nginap satu malam.
Dilantai 8 kamar 9 Rumah Sakit Umum Daerah/RSUD Budhi Asih Jalan Dewi Sartika nomor 200 Kramat Jati Jakarta Timur.
Kesimpulan untuk tindakan operasi tentu melalui konsultasi dokter spesialis Urologi, Klinik RSUD Budhi Asih.
Segala persiapan sudah dilakukan.
Mulai dari pemeriksaan dokter spesialis penyakit dalam, ultrasonografi/USG bagian jantung, USG prostat,USG saluran kemih,rontgen khusus/uretrogafi,pemeriksaan darah dan evaluasi dokter anestesi.
Bahkan sudah puasa sejak pukul 00.00 WIB.
Senin,16 Maret 2026 sekitar pukul 05.00 WIB, tenaga perawat/Ners melakukan infus.
Lalu, bertanya lagi seperti saat kami masuk kamar inap malam harinya:
Apakah bapak tidak mengkonsumsi obat pengecer darah? Kami jawab singkat: Sudah sepuluh hari tidak minum obat pengecer darah.
Namun demikian, timbul pirasat untuk memastikan apakah benar obat yang kami konsumsi sebelum puasa,
benar-benar bukan obat pengecer darah.
Kebetulan obat itu ada dilaci kamar rawat inap dan kami tunjukkan kepada suster Dyah. Setelah dibaca jenis obat dari dokter spesialis jantung, ternyata obat pengecer darah.
Nama obatnya Clopidogreen bisulfate tablet salut selaput 75 mg.
Suster Dyah kaget karena obat itu masih kami konsumsi sehari sebelum puasa makan.
"Obat pengecer darah ini sebenarnya tidak boleh dikonsumsi minimal satu Minggu sebelum tindakan operasi.
Nanti, akibatnya fatal waktu operasi, darah akan terus mengalir.
Tapi, terserah dokter spesialis Urologi yang memutuskan," kata suster Dyah sambil melakukan infus di sebelah kiri tangan saya.
Sesuai jadwal pemeriksaan dokter, sekitar pukul 06.00 WIB, kamar kami dikunjungi dr Willy Sp.U untuk memastikan persiapan tindakan operasi.
Setelah mendapat informasi dari suster Dyah dan menyaksikan obat pengecer darah yang kami konsumsi, sang dokter muda alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu segera memutuskan penundaan operasi.
"Maaf pak,rencana operasi pagi ini dihentikan.
Karena pengaruh obat pengecer darah itu fatal nanti setelah operasi.
Kita jadwalkan ulang untuk operasi dan dihentikan mengkonsumsi obat pengecer darah.Begitu ya pak...!" tutur sang dokter.
Kami pun merespon dengan senang hati demi keselamatan.
Tapi,kecerobahan seperti ini merupakan suatu pelajaran berharga.
Kurang banyak bertanya pada dokter, jenis obat mana yang pengecer darah dan obat pengecer kolesterol?
Begitulah realita orang awam yang kurang paham nama obat-obatan medis.
Hal itu terjadi mungkin karena banyaknya jenis obat yang dikonsumsi di masa usia lanjut ini.
Menghapal jenis-jenis obat juga jadi terbatas.
Benarlah nasihat orang bijak: Long life learning.
Artinya sepanjang hidup masih belajar.
Seketika itu, alat infus di tubuh kami langsung dicabut dan diperbolehkan kembali ke rumah.
Tindakan operasi pun ditunda sampai tanggal 6 April 2026.Dengan catatan, obat pengecer darah dari dokter spesialis jantung dihentikan sampai tindakan operasi dilakukan.
Pengalaman ini menjadi guru yang baik,Setidaknya,memaksa diri harus belajar nama-nama obat yang dikonsumsi dan manfaatnya.
Jika kurang paham penjelasan dokter,
syukur sudah bisa dibantu lewat media sosial seperti ChatGPT dan Google.
Era digital ini sebaiknya kita manfaatkan untuk menambah ilmu pengetahuan.
Karena media sosial platform Google, Gemini,
Meta AI,ChatGPT dan media platform lainnya merasa senang jika warganet mau bertanya tentang apa saja yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Dunia kita memang sudah makin modern.Tinggal kita, mau menimba banyak ilmu pengetahuan dari media sosial atau tidak.
( Hardi / Ludin.P )