JAKARTA ll Kesan terakhir dari Inspektur Jenderal Polisi Purnawirawan Drs Edward Aritonang,MM, minta bergabung dengan media audio visual Tarnama Podcast di Universitas Mpu Tantular/UMT, Jalan Cipinang Besar Jakarta Timur.
Permintaan tersebut dilontarkan Edward Aritonang sesuai jadi narasumber di studio Tarnama Podcast, lantai 5 kampus Bhineka Tunggal Ika UMT, 20 Pebruari 2026.Kebetulan yang menjadi host Ludin Erizon Panjaitan,SH, MM & Hotman Jonathan Lumbangaol, M.Th.
Seketika itu pula, tanpa ragu Pemimpin Redaksi Tarnama Podcast Hotman Jonathan Lumbangaol menyambut permintaan Edward Aritonang.Langsung disebut posisinnya sebagai Dewan Penasihat.Bergabung dengan Drs Ch Robinson Simanullang dan Ludin Erizon Panjaitan, SH, MM.
Sebab, kompetensi Edward Aritonang yang lama berhadapan dengan berbagai awak media utama di Ibu Kota Jakarta sudah teruji puluhan tahun.
Topik perbincangan kami waktu wawancara mulai dari percepatan reformasi Polri yang kini sedang hangat dalam perbincangan publik dan Habatahon yang menjadi misi Tarnama Podcast.
Soal percepatan reformasi Polri, Edward Aritonang mengikuti secara cermat karena terpanggil atas Korps Bhayangkara yang terhimpun dalam Persatuan Purnawirawan Polri.
"Kami loyal tegak lurus terhadap Korps Bhayangkara seperti lambang di baju ini," tegas mantan Kepala Dinas Perengan Polda Metro Jaya hingga Kepala Devisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri kepada pengelola media Tarnama Podcast di ruangan tamu.
Mantan Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah itu mengatakan, reformasi Polri tidak cukup hanya hasil kerja tim percepatan reformasi Polri yang segera dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Tapi, kata Edward Aritonang, sepanjang sejarah perjalanan Polri harus siap mereformasi diri.Karena tantangan jaman yang terus berkembang.
Ada sebuah kisah menarik ketika Irjen Edward Aritonang sebelum menjabat sebagai Kapolda Jawa Tengah tahun 2010-2011.Sebagai Kepala Devisi Humas Polri, Edward Aritonang tidak menyangka Kapolri Jenderal Drs Bambang Hendarso Danuri menawarkan jabatan Kapolda Jawa Tengah ke pundaknya.Masalahnya, Edward menyadari berasal kelompok minoritas di tubuh Polri.
"Sudah orang Batak, umat Kristen lagi.Kok ditawari jabatan Kapolda Jawa Tengah yang mayoritas Muslim?" tanya Edward Aritonang pada dirinya sendiri.
Karena itu, tawaran Kapolri tidak langsung dinyatakan siap.Tapi, dia minta waktu konsultasi dulu dengan keluarga di rumah.Setelah konsultasi dengan istrinya Frida boru Silalahi, Edward satu Minggu kemudian menghadap Kapolri dengan suatu permintaan.
"Jika bapak Kapolri mengijinkan, bagaimana kalau kami ditugaskan di Sumatera Utara, daerah kelahiran kami?" pinta Edward Aritonang memberanikan diri.
Permintaan tersebut langsung dijawab Jenderal Bambang Hendarso Danuri."Saya pernah jadi Kapolda di Sumatera Utara.Karena itu, saya tidak ingin melihat kinerjamu tidak maksimal memimpin Polda Sumatera Utara.Karena banyak kendala kamu hadapi di sana," tandas Kapolri.
Tanpa pikir panjang, Irjen Edward Aritonang langsung menyatakan siap melaksanakan tugas sesuai perintah pimpinan.
Joko Widodo Ungkap Kelakuan Polisi
Begitu mulai melaksanan tugas Kapolda Jawa Tengah, kota yang pertama dia kunjungi kota madya Surakarta, Solo.Wali Kota Surakarta kala itu, Ir Joko Widodo.Kedatanganya, secara tertutup sehingga jajaran Polres Surakarta tidak mengetahui kedatangan Kapolda Irjen Edward Aritonang.
Dalam pertemuannya dengan Wali Kota Solo ingin belanja masalah.
Terutama tentang kiprah jajaran Polres di kota Solo.Karena melihat keterbukaan Edward Aritonang, Joko Widodo pun berterus terang: "Ya, terus terang Kapolres Solo sering minta uang kepada saya."
Mendengar informasi yang kurang baik itu, kuping Kapolda Edward Aritonang merasa panas.Tapi, kegundahannya dicoba ditahanan sampai usai makan soto kegemaran Joko Widodo di kota Solo.
Begitu selesai makan siang dengan Joko Widodo, Kapolda langsung menuju kantor Polres Surakarta dan mengumpulkan seluruh jajaran.
Sekaligus memberikan pengarahan bahwa mitra kerja pemerintah seperti Wali Kota Solo tidak ada kewajiban harus memberikan bantuan berupa dukungan finansial jika diperlukan jajaran Polres Solo.
Segala tindakan di luar aturan, tidak dibenarkan Kapolda.Jika terdapat pelanggaran: "Buat saya tidak ada tawar menawar.Harus siap mutasi jabatan," tegas Edward Aritonang yang baru satu bulan menjabat Kapolda Jawa Tengah.
Berselang hanya hitungan Minggu, Edward Aritonang kembali menemui Joko Widodo di kantor Wali Kota Solo.Tujuannya, memberitahu pemutasian Kapolres Surakarta.Yang akan diganti pejabat baru Mayor Drs Listyo Sigit Prabowo yang menjabat sebagai Wakil Kapolres Kota Semarang.
Ternyata, Joko Widodo menyambut baik promosi Mayor Drs Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolres Solo walaupun pemeluk agama Katolik.
Kemudian, Joko Widodo terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2024. Kolonel Drs Listyo Sigit Prabowo pun sempat menjadi ajudan Presiden Joko Widodo karena integritasnya dinilai baik waktu jadi mitra kerjanya di kota Solo.
Bahkan, sebelum jabatan Presiden Joko Widodo berakhir selama dua periode, Jenderal Listyo Sigit Prabowo diangkat menjadi Kapolri hingga sekarang.
Nah, apakah Jenderal Listyo Sigit Prabowo setelah duduk di puncak pimpinan Polri masih ingat seniornya dan mantan Kapolda Edward Aritonang?
Dengan nada rendah, Edward Aritonang,
alumni Akademi Kepolisian angkatan 1977 menjelaskan, hubungan baik mereka tetap berjalan baik termasuk dengan Presiden ke-7 RI Ir Joko Widodo.
"Siapa tahu ada rencana Tarnama Podcast mau wawancara dengan pak Jokowi di Solo, saya bisa fasilitasi," ujar Edward Aritonang mengakhiri pertemuan kami di lantai 5 kampus Bhineka Tunggal UMT, Pebruari lalu.
Niat baik dan uluran tangan yang tulus dari sosok Irjen Purn Edward Aritonang yang hamble, tidak akan kami lupakan.Buktinya, dalam rapat pengelola Tarnama Podcast, Kamis, 5 Maret 2026, kami sepakat menetapkan Irjen Purn Drs Edward Aritonang,MM menjadi Penasihat Dewan Redaksi Tarnama Podcast.
Tapi, Tuhan berkehendak lain.Sebelum kami undang dalam rapat Dewan Redaksi Tarnama Podcast, Edward Aritonang sudah mendahului kita.Tokoh Batak yang berdedikasi atas pembangunan Tugu Toga Aritonang yang megah di tepian Danau Toba, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara, tutup usia 72 tahun.Di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Sakit yang dideritanya, sempat dikeluhkan kepada kami karena setelah operasi bypass jantung 20 tahun lalu, baru awal Pebruari 2026 periksa kembali di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.Sempat diopname selama dua hari karena kurang rutin pemeriksaan gangguan jantung akibat operasi bypass itu.
Dia juga berterima kasih atas jasa Badan Pengelola Jaminan Sosial/BPJS Kesehatan yang mengcover seluruh biaya perawatannya di RS Jantung Harapan Kita yang mencapai Rp 400 juta.
"Ternyata layanan fasilitas BPJS sangat baik.Selama ini, kami jarang menggunakan kartu BPJS jika berobat ke rumah sakit," ujar Edward Aritonang sebelum meninggalkan ruangan pertemuan di kampus UMT.Kisah ini hanya sekadar kenangan yang ditinggalkan tokoh Batak yang inspiratif.
Kami juga masih mengenang kesederhanaan dan kerendahan hati Irjen Edward Aritonang dalam suatu momen pelantikan para pejabat tinggi di Ruang Pertemuan Utama Mabes Polri Jakarta tahun 2009.
Di tengah puluhan jenderal termasuk di antaranya Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, jenderal polisi bintang dua Edward Aritonang tak sungkan mengambil snack dan secangkir kopi buat kami. "Pak Aritonang, saya malu diperlakukan begini.Kok begitu jauh perhatiannya.Apa kata teman-teman Anda nanti?"
"Tidak apa-apa, rekan Pers kan, tamu kita pada acara ini," jawabnya singkat tanpa peduli apa kata rekan sejawatnya sesama para jenderal polisi.
Hubungan kemitraan kami dengan Edward Aritonang memang sudah lama terjalin sejak memangku jabatan Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, Kadispen Polda Metro Jaya hingga diangkat jadi Kadiv Humas Polri.Bahkan pernah kami duduk dalam suatu kepanitiaan Pesta Danau Toba yang dipusatkan di Muara tahun 2007.
Dari interaksi kami yang terjalin begitu lama, saya tangkap begitu besar impian Irjen Edward Aritonang berkontribusi membangun bona pasogit Tano Batak.Padahal, dia dilahirkan di Rantau Prapat karena sang ayah seorang militer sering pindah-pindah dinas.
Namun demikian, sejak dia masih duduk di bangku SMP hingga SMA sering disuruh sang ayah Ompu Sungguh Aritonang pulang kampung halaman Muara.Melihat sawah keluarga mereka.
Saat liburan sekolah, Edward Aritonang muda turun ke sawah sambil mengembala kerbau membajak sawah.
"Banyak orang salah persepsi bahwa saya bukan asli orang kampung.Silaka saja bilang begitu.Yang jelas, saya cinta kampung halaman Tanah Batak.Mangaluku sawah dengan kerbau pun saya lakoni," kata Edward meyakinkan.
Karena itulah, di masa pensiun dari dinas aktif Polri, Edward Aritonang terjun membangun hotel Noah dekat Bandara Silangit, Siborongborong, Tapanuli Utara.
Bahkan,
sebelum Tuhan memanggil Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (Abujapi) Jaya periode 2025–2030,
Irjen Edward Aritonang mengimbau rekan-rekannya termasuk pensiunan PNS agar mau pulang membangun daerahnya
Semoga harapan beliau bisa terwujud kelak.
RIP Irjen Purn Drs Edward Aritonang,MM.
( Hardi / Ludin.P)