BANDUNG ll Dalam suatu diskusi di Kedai Tempo Jakarta, Rabu, 22 April 2026, tentang relevansi Dasa Sila Bandung yang dicetuskan para pemimpin negara Asia-Afrika di Bandung tahun 1955,
muncul pertanyaan bagaimana politik kontemporer Indonesia menghadapi gejolak dunia akibat perang Iran versus Israel-Amerika Serikat?
Narasumber Dudy Suryadi,
pengurus Daerah Jakarta Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia/GMNI memberikan tanggapan menarik dan menyebut tidak ada lagi juluki macam Asia dalam percaturan politik internasional saat ini.
Diakui, hingga perpanjangan genjatan senjata perang Iran vs Israel-AS,
Rabu ( 22/4/ 2026), kontribusi Dasa Sila Bandung tidak ada gaungnya dalam geopolitik internasional.
Sebab dominasi negara adidaya Amerika Serikat menguasai panggung dunia.Padahal,
salah satu butir Dasa Sila Bandung adalah anti-dominasi dunia.
Dasa Bandung yang dihasilkan dalam konferensi tingkat tinggi pemimpin negara Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 atas prakarsa Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno, dengan sapaan akrab Bung Karno, mengandung 10 prinsip dasar hubungan intersional guna menciptakan perdamaian dunia, keadilan dan kerja sama antarnegara; Menghormati kedaulatan negara; Tidak melakukan intervensi;
Tidak melakukan agresi atau ancaman kekerasan;
Menyelesaikan konflik dengan cara damai; Menjunjung HAM dan hukum internasional.
Makna mendalam Dasa Sila Bandung, ada nilai filosofis besar: Anti-penjajahan, anti-dominasi dan menolak segala bentuk kolonialisme serta hegemoni kekuatan besar.
Sebab, semua negara—besar atau kecil—setara di mata hukum internasional.Tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
Jika terjadi konflik harus diselesaikan melalui diplomasi,
negosiasi dan menegakkan hukum internasional.
Menjadi dasar lahirnya sikap Dasa Sila Bandung tidak berpihak pada blok kekuatan besar Amerika Serikat/AS vs Uni Soviet pada tahun 1955.
Hubungan Dasa Sila Bandung dengan politik luar negeri Indonesia sangat memengaruhi prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.
Dalam perang Iran vs Israel-AS tampak terang benderang bahwa keterlibatan Amerika Serikat merupakan contoh konflik geopolitik modern yang kompleks.
Sehingga prinsip Dasa Sila Bandung,
sulit memberikan kontribusi konkret.Apalagi mengambil peran sebagai mediator dalam mendamaikan perang Iran vs Israel yang berlangsung selama 40 hari.Mulai terhitung 28 Pebruari 2026 hingga terjadi genjatan senjata yang dimediasi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Syarif.
Dalam mengadapi perang Iran vs Israel-AS, Indonesia belum mengeluarkan sikap politik untuk mengecam pelanggaran HAM dan mendukung rakyat sipil yang terdampak.
Posisi Indonesia tampaknya "menjaga jarak tetapi tetap bersuara”.Artinya, sikap realistis Indonesia bersifat kontemporer.Hal Ini sejalan dengan analisis bahwa dunia saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap hukum internasional dan meningkatnya konflik global.
Namun demikian, Indonesia tetap mendukung kemerdekaan Palestina.Bahkan membuka kemungkinan hubungan dengan Israel jika Palestina merdeka.
Sikap resmi Indonesia masih konsisten “bebas aktif”.Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menegaskan, tidak memihak atau non-blok dengan mengedepankan diplomasi dan dialog serta aktif menjaga perdamaian dunia.
Namun demikian, prinsip Dasa Sila Bandung yang dicetuskan pemimpin bangsa kita tahun 1955 hendaknya jangan menjadi dokumen sejarah dalam diplomasi Indonesia di panggung politik internasional.
Penulis : Hardi / Ludin.P