Simalungun ll Polemik pergantian nama Balai Harungguan di Simalungun memasuki babak baru yang kian memanas.
Kali ini, protes keras datang langsung dari garis keturunan pahlawan legendaris Simalungun. Lukman Rudi Saragih Garingging, cicit kandung dari Tuan Rondahaim Saragih Garingging, menyatakan keberatan dan penolakan tegas atas kebijakan tersebut.
Dalam pernyataannya, Lukman Rudi mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam. Menurutnya, penghapusan atau pergantian nama yang berkaitan dengan sejarah dan marwah lokal bukan sekadar urusan administratif, melainkan bentuk pengerdilan terhadap nilai-nilai sejarah yang telah diperjuangkan oleh para leluhur.
"Saya sebagai cicit langsung dari Tuan Rondahaim Saragih Garingging menyatakan tidak terima. Saya merasa derajat Oppung kami seolah diturunkan begitu saja dengan adanya kebijakan ini," tegas Lukman Rudi dengan nada emosional, Jumat (6/2/2026).
Menjaga Marwah, Bukan Sekadar Nama
Bagi keluarga besar Garingging, nama "Harungguan" dan segala atribut sejarah yang melekat padanya adalah simbol kehormatan masyarakat Simalungun. Lukman menilai bahwa pergantian tersebut tidak mencerminkan sikap hormat terhadap sejarah perjuangan Tuan Rondahaim yang dikenal sebagai sosok gigih melawan penjajahan dan penjaga martabat Simalungun.
Menurut pandangannya, kebijakan ini justru berisiko membenturkan nama besar para tokoh sejarah Simalungun satu sama lain. "Ini bukan soal nama saja, ini soal harga diri dan warisan budaya. Jangan sampai pembangunan atau perubahan yang dilakukan justru mencabut akar sejarah kita sendiri," tambahnya.
Harapan pada Habonaron Do Bona
Lukman Rudi mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk mengevaluasi kembali kebijakan tersebut dengan mengedepankan prinsip Habonaron Do Bona (Kebenaran adalah Akar Segala Sesuatu). Ia menekankan bahwa sebuah kebijakan tidak boleh hanya bersifat top-down tanpa mempertimbangkan perasaan serta hubungan emosional masyarakat adat dan garis keturunan tokoh-tokoh sejarah.
Kontroversi ini menambah panjang daftar kritik dari berbagai elemen masyarakat Simalungun yang merasa identitas lokal mereka mulai tergerus oleh kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak partisipatif.
Demikian info dan hasil investigasi yang diterima dari Fernando Albert Damanik Unit Investigasi Budaya & Sejarah Simalungun yang juga pemilik Nusantara News To Day.
Penulis : Jhon Sinaga