JAKARTA - Pada acara pemakaman Inspektur Jenderal Polisi Purnawirawan Drs Edward Hasoloan Aritonang, Minggu,15 Maret 2026,
ada peluang mengelilingi sebagian pojok Taman Makam Pahlawan/TMP Nasional Utama Kalibata Jakarta Selatan.
Tepat pukul 12.00 WIB, saya sudah turun dari angkutan umum Jaklingko 43B jurusan Tongtek-Tebet ECO Park-PGC Cililitan.
Dari halte dekat danau TMP.
Kemudian jalan kaki sekitar 200 meter menuju gerbang utama masuk TMP seluas 24,7 hektare yang dihiasi gapura khas Bali.
Rupanya,dalam pembangunan Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata tahun 1953,
arsitek gapura mendapat pengarahan langsung dari Presiden Ir Soekarno-nama akrab Bung Karno-berdarah Bali dari ibundanya.
Hanya dalam waktu satu tahun, gapura,
ornamen dan Tugu Pahlawan di tengah Taman Makam Pahlawan Kalibata sudah rampung.
Presiden Ir Soekarno meresmikan Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta bertepatan dengan perayaan hari Pahlawan Nasional tanggal 10 Nopember 1954.
Awalnya,TMP Kalibata didirikan untuk merelokasi kerangka jenazah para pahlawan dari Taman Makam Pahlawan Ancol, Jakarta Utara.
Kawasan Ancol saat itu masih sepi dan belum ada bangunan modern di Teluk Jakarta itu.Daerah Kalibata dipilih sebagai lokasi Taman Makam Pahlawan Nasional Utama karena tanah di sana luas dengan kebun karet.
Mungkin juga milik pemerintah sehingga mudah diterbitkan sertifikat tanah untuk relokasi Makam Pahlawan dari Ancol.
Di gerbang utama sebelah kanan terdapat sebuah ornamen ukiran khas Bali.
Di bawah lukisan gambar burung Garuda terpampang: Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta.
Sedang di gerbang utama sebelah kiri dihiasi sebuah ornamen juga berukiran Bali.
Pada dinding ornamen warna hitam tertulis sederet nama para pahlawan yang telah gugur demi bangsa dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Nama para pahlawan nasional yang diabadikan pada ornamen antara lain: Haji Agus Salim.
(1884-1954), Sutan Sjahrir (1909-1966), Laksma Raden Eddy Martadinata (1921-1965),
Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution (1918 -2000), Prof Dr Hazairin (1906-1975),
Letjend Anm Raden Soeprapto (1920-1965),
Mayjend TNI Anm Soetojo Siswomihardjo (1922-1965),
Kopral KKO Anm Harnis bin Said alias Tahir (1947-1968),
Letjend TNI Anm MT Harjono (1924-1965),
Kapten TNI Anm Pierre Tendean (1939-1965),
John Lie/Jahja Daniel Dharma (1929-1868),Haji Adam Malik( 1917-1984), Dr Sahardjo,SH ( 1909-1963), Ir H Djuanda Kartawidjaja (1911-1963), Jenderal TNI Anm Achmad Yani (1922-1965),
Mayjend TNI Anm Donald Irazuz Pandjaitan (1925-1965), Jenderal Dr Tahi Bonar Simatupang (1920-1990), Drs Jamin Ginting(1921-1974).
Masih banyak lagi nama pahlawan nasional yang tidak tertulis pada ornamen Taman Makam Pahlawan Nasional Utama.Namun demikian,
semua pahlawan yang dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional tertulis dalam batu nisan seperti Jenderal LB Moerdani yang tidak jauh dari pusara Irjen Polisi Drs Edward Hasoloan Aritonang, MM pada nomor pusara 4592.
Letaknya di sebelah selatan berdekatan dengan pusara Irjen Polisi Drs Logam Siagian, M.H.
Karena waktunya singkat,
saya tidak bisa menjelajahi sebanyak 10.000 pusara para pahlawan.
Di tengah Makam Pahlawan Nasional Kalibata berdiri sebuah Tugu Pahlawan dengan lapangan upacara yang luas.
Tempat upacara kenegaraan pada peringatan hari Pahlawan Nasional tanggal 10 Nopember setiap tahun sejak tahun 1945.
Kapasitasnya ribuan peserta upacara.
Sebenarnya,
wisata sejarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata bukan cuma soal melihat barisan batu nisan.
Tapi untuk mengenang, belajar dan meresapi kisah-kisah nyata dari mereka yang sudah berjuang demi bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sejarah Singkat TM P Kalibata Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta didirikan tahun 1953 sebagai tempat peristirahatan terakhir para pahlawan nasional.Selain tokoh penting militer para tokoh sipil yang berjasa dalam pembangunan bangsa.
Luasnya sekitar 24, 7 hektare.
Di sanalah lebih dari 10.000 makam pahlawan dari berbagai latar belakang dimakamkan—dari pejuang revolusi,
tokoh reformasi hingga Presiden dan Wakil Pesiden.
Dengan jalan kaki menyelusuri deretan makam bisa terekam perjalanan panjang Republik Indonesia sejak masa perjuangan 1945,
Orde Baru hingga era Reformasi saat ini.
Begitu masuk area TMP, kesan pertama yang muncul adalah suasana keheningan,
Tidak ada suara bising kendaraan.
Udaranya cukup segar dengan pepohonan yang rindang menaungi hamparan nisan putih berjajar rapi,
Suasana terasa syahdu di tengah kesyunian.
Apalagi seorang diri yang menjelajahi setiap lorong batu nisan para pahlawan.
Makam diatur dalam barisan yang sistematis.
Setiap nisan ditandai dengan pelat nama, pangkat, gelar dan tahun wafat.
Ada juga monumen dan tugu peringatan di beberapa titik seperti Monumen Pahlawan Revolusi dan Taman Refleksi.
Jalan setapak bersih dan terawat dengan petugas yang menjaga ketertiban.
Spot menarik di TMP:
Tugu Taman Pahlawan sebagai titik utama upacara kenegaraan, area
khusus pahlawan revolusi,
monumen pengabdian militer dan makam tokoh nasional dengan tanda khusus.
Juga ada taman refleksi dengan relief perjuangan.
TMP Kalibata juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi veteran tentara Kekaisaran Jepang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Beberapa tokoh internasional seperti Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi dan Kaisar Jepang Naruhito, pernah berjiarah ke TMP Kalibata.
TMP Kalibata merupakan simbol penghormatan bagi para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan menjadi tempat wisata sejarah yang penting bagi masyarakat Indonesia.
Taman ini dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 07.00-17.00 WIB tanpa pungutan uang.
Jika kunjungan dengan rombongan besar perlu konfirmasi ke pihak pengelola biar difasilitasi dengan angkutan khusus secara gratis.
Selamat wisata sejarah ke Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta.
( Hardi / Ludin.P )