Jakarta- Syukuran awal tahun 2026 Wadah Komunikasi Pelayanan Umat Bersama/WKPUB Jakarta ditandai dengan doa bersama lintas agama:
Kristen Protestan, Khatolik, Hindu dan Khong Hu Chu.Diadakan di aula HKBP Kramat Jakarta Timur, Sabtu, 24 Januari 2026.
Dari Kristen Protestan diwakili Pdt Filemon Sigalingging, S.Th, Romo Maruli Sihombing dari Khatolik,
Pandita Ketut Wardika dari Hindu Wandi Suardi dari Khong PU Chu.Sedang dari Komunitas agama Budha,
Pandu Dinata,S.Kom dan komunitas penghayat kepercayaan Dr Sumargono, tidak bisa hadir.
Sambutan pembukaan dari Pdt Dr Martongo Sitinjak, pimpinan HKBP Resort Kramat Jati Jakarta Timur sebagai tuan rumah.Tapi, doa penutup dari Ustad Akmal Sidik,sebagai ketua bidang sosialisasi Forum WKPUB Jakarta Timur.
Ketua Umum WKPUB Jakarta Pdt Emeritus Hosea Sudarna, S.Th, M.Si dari gereja Jawa Protestan,
Rawamangun Jakarta Timur menjelaskan, sejak WKPUB berdiri tahun 1999 pascakerusuhan suku, agama dan ras/SARA bulan Mei 1998, aktif melakukan doa syukur setiap tahun.
Dengan demikian, kegiatan doa bersama lintas agama sudah eksis selama 26 tahun.
Dengan dukungan penuh dari komunitas wartawan Perkumpulan Gereja yang diketuai Dr Dharma Leksana, M.Th, M.Si.Penulis novel bersama Pdt (Em) Hosea Sudarna,
tentang perjalanan sosial WKPUB Jakarta di Kolopoduwur. Di Bolora, Jawa Tengah:
Sami seger waras merajut persaudaraan sejati bersama sedulur SIKEP. Diterbitkan di Jakarta ,Agustus 2025.
Hosea mengingatkan, dengan berlakunya Kitab Undang-undang Pidana (KUHP) yang baru bahwa setiap orang yang menganggu peribadan dan menghasut umat beragama: Terancam sanksi pidana penjara selama dua tahun.
Sesuai aturan pasal 303 dan 304 KUHP yang berlaku mulai 1 Januari 2026.
Pelaksana tugas Pembinas Kristen,
Kantor Wilayah Kementerian Agama Jakarta Timur Antonius Sinaga, MM.M.Si mengatakan, kegiatan doa syukur lintas agama diperlukan sebagai perwujudan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
"Semua orang sebaiknya dipandang sebagai saudara kita.Tanpa melepaskan identitas masing-masing umat beragama,"
tandas Antonius seraya memuji tampilnya musik Marawis,
musik perkusi bernuansa Islami asal Timur Tengah di aula gereja HKBP Kramat Jati.
Hal itu juga membuktikan,
dengan kehadiran musik Merawis di acara doa lintas agama merupakan moderasi beragama yang didorong Kemenag sebagai wujud toleransi antarumat beragama di Tanah Air.
Selain musik Marawis, juga ditampilan tortor dengan lagu populer Batak,
tari Rupo Kembayang dari Banyuwangi,
tarian khas Betawi, drama kesenian anak-anak Assalam, penampilan tradisi Barongsai asal Tiongkok dan permainan musik Angklung dari Sunda yang dimainkan Punguan Lanjut Usia HKBP Kramat Jati.
Kegiatan WKPUB diharapkan berlanjut demi semangat toleransi antarumat beragama di Jakarta yang hitrogen.
Kepala Sub Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Eliezer Hutapea, M.Si mengatakan,
Gubernur DKI Jakarta Dr Pramono Anung tidak bisa hadir karena sidak masalah banjir di Jakarta.
Tapi, Eliezer mengapreasiasi kegiatan WKPUB sebagai bagian dari 36.000 organisasi kemasyarakatan/Ormas di Jakarta.
Di wilayah Jakarta Timur yang terdiri dari 10 kecamatan tampak semakin terjalin kerukunan dan toleransi antarumat beragama dari sikap hati yang dalam.
Membangun kesadaran itu, diakui tidak mudah melalui WKPUB tanpa dukungan berbagai pihak.
Ustadz Akmal Sidik, ketua bidang sosialisasi Forum WKPUB DKI Jakarta Timur dan Ketua PB NU Jatinegara menyinggung tema doa syukur dengan melayani bersama keluarga.
Tema ini Ingin menciptakan harmoni secara sosial di masyarakat.
Karena persatuan dan kesatuan sangat dibutuhkan dalam masyarakat yang majemuk seperti Jakarta.
Semoga toleransi antarumat beragama kian dihayati warga negara Indonesia.
( Hardi / Ludin. P)