JAKARTA- Beberapa artis nasional tampil pada konser: Tortor, andungandung, torsa, karya tenun ulos dan lagu-lagu Batak yang dikemas dengan tema:Tona Sian Huta/Pesan dari kampung halaman bona pasogit Tano Batak.
Pagelaran seni budaya Batak itu berlangsung hingga larut malam dan menggetarkan Ballroom Grand lantai 5 NT Tower, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat, 13 Pebruari 2026.
Pertunjukkan diawali dengan penampilan pegiat tenun ulos Batak lengkap dengan perangkat karya tenun tradisional khas dari Bona Pasogit.Partonun/pegiat tenun ulos Batak mendapat kehormatan berada di panggung yang disorot cahaya warna warni sehingga tampak lebih anggun.
Totor/tari mangkok yang dilakoni kelompok tari dari Jakarta dan bona pasogit mengibur penonton pada segmen kedua.Hampir setengah jam pertunjukkan tortor.Pertunjukan memukau penonton atas kepiawaian para penari memindahkan mangkok putih dari kepala ke ujung jari hingga ke lengan bahu sambil menari dan mendapat sambutan yang meriah.
Pada segmen ketiga, lampu sorot agak diredupkan untuk mendukung lakon andungadung dari Bona Pasogit.Dua sosok seniwati: Corry Paroma Panjaitan dan Cisilia boru Siagian membawakan andungandung yang begitu mendalam dan menyentuh hati.
Kisah yang menjadi ratapan/andungandung mereka tentang tangisan dan jeritan hati atas musibah tanah longsor dan banjir yang melanda Tapanuli Raya dengan ratusan korban jiwa akhir Nopember 2025. Ratapan mereka merupakan: Tona Sian Huta menggambarkan kondisi Tapanuli Raya, kawasan Danau Toba yang indah, ditinggalkan dan terlupakan.
Suasana sangat haru dengan mengajak semua putra daerah maupun di perantauan untuk merenungkan betapa pentingnya menjaga dan melestarikan budaya serta lingkungan hidup yang asri.
Corry dan Cisilia secara profesional sering tampil dalam tayangan Chanel YouTube dengan tarian khas Batak/tortor dan andung-andung di kawasan Danau Toba, Parapat. Karena itu, media Tarnama Podcast mengundang Corry Paroma berbincang tentang makna andungandung dalam seni sastra Indonesia.
Dalam Alkitab juga terdapat andungandung atau ratapan dari Apostel Yeremiah di masa penderitaan orang Israel yang dilanda kelaparan dan dosa karena nyawa orang benar dihabisi. Juga menghadapi musuh yang mau merebut kota Jerusalem.Nyanyian dan andungandung Apotel Yeremiah sebagai ungkapan jujur dan mendalam kepada Tuhan di tengah penderitaan, dosa atau tragedi yang melanda negeri Yahuda sebelum Masehi.
Hal itu bukan sekadar keputusasaan bangsa Yahudi.Melainkan jalan iman menuju pemulihan dengan permohonan, penyesalan, dan harapan. Andungandung bangsa Yuhuda adalah contoh nyata bagaimana ratapan hati bisa menjadi bentuk kepercayaan pada kasih setia Allah.
Belajar dari budaya Israel, andungandung/ratapan bangsa Israel semakin diperkuat keimanan, kesadaran nasional dan persatuannya untuk menghadapi musuh mereka.
Kini, timbul pertanyaan adakah peluang budaya andungandung Batak bisa bertransformasi menjadi budaya andungandung Nusantara? Ini memerlukan perjuangan semua pihak utamanya para budayawan halak hita Batak.
Pada segmen keempat, menampilkan torsa-torsa atas penggundulan hutan dan kerusakan ekologi yang mengakibatkan musibah longsor dan banjir besar yang melanda Tapanuli Raya.Torsa-torsa ini merupakan karya Lasro Marbun, SH yang pernah menjabat Kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta.Pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ir Joko Widodo.
Usai penyampaian Pesan Sian Huta, tampil artis-artis nasional: Viktor Hutabarat, Erik Sihotang, Dorman Manik, Rani Simbolon, Putri Silitonga, Korem Sihombing, Sari Safitya, Sanggam Hutapea dan Trio Style Voice.Para penonton konser cukup terhibur dan berjoget ria hingga menjelang tengah malam.
Pemandu acara/MC Lastiar Nababan mengakui menjaga seni budaya Batak tidak mudah di era globalisasi ini. Banyak tantangan yang dihadapi karena minimnya minat generasi muda.Apalagi ada anggapan budaya tradisional Batak sudah kuno.Bahkan kalangan generasi muda tak suka lagi berbahasa daerah.
Kepedulian terhadap kampung halaman juga minim. Ini memang masalah serius yang perlu kita tangani bersama. Budaya populer asing yang mendominasi perkembangan jaman di era media sosial yang membanjiri dunia.
Namun demikian, masih ada harapan.Dengan rasa cinta, bisa mempelajari langsung dan mempraktikkan budaya dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga budaya Batak agar tidak punah. Semoga
Penulis: Hardi / Ludin.P