Jakarta, detikNewstv.com -Kami bersama Plt Dirjen Keuangan Otomi Daerah Kemendagri Dr Horas Maurist Panjaitan pernah menghitung biaya perbaikan Jalan Kabupaten yang rusak parah di Tombak Sitangkereng,
Kecamatan Silaen, Toba. Sepanjang 5 kilo meter hanya memerlukan anggaran Rp 5 miliar.
Tapi, sayangnya sejak era kepemimpinan Bupati Toba Ir Darwin Siagian,MM- putra asli kawasan pegunungan Siriaria- tahun 2014-2019 hingga era Bupati Effendi Napitupulu periode 2024-2029, belum ada perubahan.Sulitnya mengalokasikan anggaran Rp 5 miliar dari APBD untuk perbaikan paru-paru perekonomian di TombakSitangkereng, kawasan Dolok Surungan dengan alasan klasik anggaran pembangunan sangat terbatas.
Padahal, sumber daya alam kawasan Dolok Surungan Kecamatan Habinsaran, berbatasan dengan Kecamatan Silaen sangat menjanjikan. Bebatuan di kawasan Dolok Surungan dengan ketinggian 1.630 meter di atas permukaan laut/dpl menurut penelitian mengandung emas.Tapi, usianya masih muda.Belum waktunya ditambang.Selain itu, hasil pertanian, kopi, kemenyan dan andaliman bisa juga diandalkan.Tanaman sayur mayur pun layak dikembangkan karena alamnya subur dengan suhu udara dingin.
Yang menjanjikan lagi di sektor pariwisata.Panjat tebing di Batu Bolon setinggi 100 meter lebih.Di atas Kampung Siliatliatan Desa Panamparan,
Kecamatan Habinsaran. Sudah diujicoba dan diakui Mahasiwa Pencinta Alam/Mepala Universitas Sumatera Utara sangat potensial jadi ajang panjat tebing level nasional.Seharusnya, Dinas Pariwisata Toba proaktif mempromosikan arena panjat tebing Batu Bolon.Berkolaborasi dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia/FPTI tingkat provinsi Sumatera Utara di Medan.
Selain ajang panjat tebing yang sangat layak diperlombakan, wisata gunung ke puncak Dolok Surungan juga menjanjikan.Pengalaman Tim Ekspedisi dari Kabupaten Asahan tahun 2023, bisa menjadi rujukan.
Tiga hari perjalan Tim Ekspedisi mencapai puncak Dolok Surungan, dinarasikan sebagai pendakian yang sangat menantang dan membuahkan kepuasan yang luar biasa.
*Paru-paru Ekonomi*
Nah, masalahnya kembali ke infrastrukturjalan di Tombak Sitangkereng yang merupakan urat nadi transportasi dari Desa Sibide ke Desa Panamparan.
Sebenarnya, mantan Bupati Darwin Siagian paling paham geografis Tombak Sitangkereng, Kecamatan Silaen.Sekitar 75 kilo meter sebelah timur kota Balige, ibu kota kabupaten Toba.
Karena sejak usia remaja, Darwin Siagian sudah terbiasa menembus kawasan hutan Tombak Sitangkereng dengan jalan kaki sepanjang 50 kilo meter pulang pergi.
Sekadar kilas balik:
Tahun 1920-1960-an, Onan/Pasar tradisional Tornaganjang merupakan pusat perekonomian di kawasan Dolok Surungan. Bukan hanya dari Desa Siriaria, tempat kelahiran Darwin Siagian yang bertransaksi jual beli hasil pertanian dan kebutuhan rumah tangga di Onan Tornaganjang.
Tapi, para pedagang dan konsumen setiap pekan hari Senin datang dari berbagai penjuru.Mulai dari desa yang terdekat: Sitonggitonggi, Sibide, Sigordang, Meranti, Parduaan, Tampahanbidang, Pararungan, Lumbantala, Gonting, Panamparan, Siliatliatan, Pangasean, Paindoan, Lumbanlintong, Aek Margallo, Sijomba, Sibuntuon, Pagarbatu, Aek Kusim, Sidempuan, Lumbangaol, Lumbanbalik, kota Parsoburan, Sitorang dan kota Laguboti.
Perputaran uang kala itu mencapai ratusan ribu rupiah.Jika dihitung dengan nilai rupiah sekarang Rp 1 miliar lebih.Di pasar tradisional terpencil kawasan pegunungan,
fantastis, bukan!
Semua pengunjung Onan Tornaganjang yang berlokasi di punggung bukit Lumbangaol dan Kampung Sidempuan, Habinsaran, harus jalan kaki menyelusuri jalan setapak nansunyi.Tulang punggung transportasi barang dan belanjaan berat cuma mengandalkan tenaga kuda.
Namun demikian,
keramaian pasar tradisional yang asri dikelilingi hutan alami cukup menarik. Gagasan lokasi pasar tradisional Tornaganjang dari kaum penjajah Belanda.Tidak ada rumah penduduk di sekitar Onan sehingga selain hari Senin, lokasi Onan benar-benar sunyi.Yang terdengar hanya suara binatang si amang yang bergelantungan di tengah hutan alami.
Faktor kesyunian itulah jadi pertimbangan,
perpindahan Onan ke Simpang Tiga Desa Lumbanlintong di tahun 1970-an.Hanya berjarak dua kilo meter ke arah timur Tornaganjang.Onan Simpang Tiga dengan rumah toko bertahan hingga sekarang.
Tapi, pengunjung semakin berkurang walaupun infrastrukturjalan sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. Konsumen sudah dimanjakan pedagang keliling yang menawarkan kebutuhan sehari-hari dari rumah ke rumah.Hasil panen kopi dan kemenyan juga dijemput pedagang dari kota Parsoburan.
Jarak dari Parsoburan-ibu kota Kecamatan Habinsaran- ke pasar tradisional/Onan Simpang Tiga sekitar 35 kilo meter.Infrastrukturjalan di Sibintatar,
Lumbanbalik dan Desa Lumbangaol yang harus dilalui sering tertimbun tanah longsor sehingga waktu tempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat paling cepat satu jam.
Dari Parsoburan ke kota Balige sepanjang 75 kilo meter.Panjang jalan dari Tombak Sitangkereng ke kota Balige juga 75 kilo meter.Jadi, jika infrastrukturjalan di Tombak Sitangkereng diperbaiki dengan coran beton, terpotong jalan sejauh 35 kilo meter.
Dari Dusun Sitonggitonggi, Desa Sibide hingga kota Balige sudah mulus dengan hotmix.Hal itu berkat kebijakan Bupati Darwin Siagian di masa kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di Kabupaten Toba selama lima tahun.Juga melalui keputusan DPRD Toba meningkatkan status Jalan Desa dari Sitorang-Sibide-Lumbangaol-Lumbanbalik hingga kota Parsoburan menjadi Jalan Kabupaten.
Dengan demikian, kerusakan infrastrukturjalan di Tombak Sitangkereng sejak penjajahan kolinial Belanda hingga sekarang merupakan tanggung jawab pemerintah Kabupaten Toba.
Akhirnya bisa dikatakan, sejak tahun 1920 hingga jaman now: Era digital, penduduk kawasan Dolok sudah penuh kesabaran.
Bahkan bisa menghibur diri ketika mereka menempuh perjalanan yang melelahkan di tengah keheningan Tombak Sitangkereng. Menganggap sebagai retret spiritual,
mengasah kesabaran, pengendalian emosi dan mungkin dengan doa-doa tambahan.Kini, kita mengetuk hati nurani Bupati Toba Effendi Napitupulu yang terlanjur berjanji di musim kampanye tahun 2024, bersedia memperbaiki jalan rusak parah di Tombak Sitangkereng.
Masih ada waktu tiga tahun lebih untuk membayar hutang janji.Bupati Effendi Napitupulu yang didukung pemilih dari kawasan Dolok Surungan,
harus berani ambil keputusan: Agar anggaran pembangunan Rp 5 miliar segera mengalir ke Tombak Sitangkereng yang sudah ratusan tahun mendambakan kue pembangunan. Kita tunggu keputusan Bupati Toba sebelum tahun politik 2028.
( Hardi / Ludin.P )