Jakarta - Ada ungkapan suku Batak yang populer:Dang dao tubis sian bona na.Artinya, tunas muda bambu tidak lepas dari pokok bambu sendiri.
Jika dianalogikan dalam kehidupan makluk manusia,
ungkapan di atas tidak jauh berbeda. Pribahasa juga menekankan, apa yang ditanam, hasil tanaman itu yang ditunai.
Kata-kata bijak ini sering terdengar di lingkungan keluarga dalam pembinaan spritual maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sebagai ilustrasi faktual, kita ambil contoh pimpinan negara Indonesia.
Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Ir Soekarno,
dengan sapaan akrab Bung Karno.Setelah beliau wafat di masa rejim Orde Baru Presiden Soeharto, 21 Juni 1970, siapa sangka tunas baru dari keluarga besar Bung Karno muncul lagi jadi pemimpin bangsa Indonesia.
Di bawah tekanan politik selama 30 tahun, sebenarnya keluarga Bung Karno sudah hilang harapan untuk duduk di tahtah kekuasaan.
Karena pendidikan formal anak dan putri Proklamator Bung Karno di perguruan tinggi dihambat penguasa otoriter Presiden Soeharto.
Untungnya, Ir Soekarno menggagas berdirinya partai politik baru,
4 Juli 1927.Namanya Partai Nasional Indonesia/PNI.
Lewat Parpol nasionalis inilah Ir Soekarno bersama tunas-tunas muda bangsa melakukan pergerakan menuju pintu gerbang Indonesia merdeka...!
Dengan pengorbanan berpolitik praktis, harus keluar dan masuk penjara di bawah jajahan kolonial Hindia Belanda.
Di dalam penjara politik, ideologi Soekarno muda semakin mengkristal merumuskan kerangka landasan negara jika impian kemerdekaan Indonesia terwujud.
Gagasan besar pendiri Parpol PNI Soekarno : Merumuskan butir-butir mutiara dari dasar bumi Nusantara yaitu PANCASILA atau lima sila.
Sejarah bangsa mencatat,
baru setelah 18 tahun bendera Parpol PNI berkibar di seluruh Nusantara, perjuangan Soekarno dan pejuang kemerdekaan lainnya membuahkan hasil gemilang: Ir Soekarno dan Drs M Hatta, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia,
17 Agustus 1945.Di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta Pusat.
Tak pelak lagi, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan Ir Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia dan Drs Mohammad Hatta menjadi Wakil Presiden.Di Jakarta, tanggal 18 Agustus 1945.
Sejarah buram muncul pada 12 Maret 1967.Lewat sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara/MPRS dengan TAP MPRS nomor XXXIII mencabut kekuasaan Presiden Soekarno.
Sebenarnya, Bung Karno sudah tumbang sejak dikeluarkan surat perintah 11 Maret 1966 yang menyerahkan mandat Presiden dan Kepala Negara kepada Jenderal Soeharto akibat peristiwa Gerak 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia yang menelan jutaan nyawa warga negara Indonesia melayang.
Sayangnya, stigma Bung Karno mendukung G-30-S/PKI tidak pernah dibuktikan di meja hijau pengadilan negeri.
Karena penguasa otoriter Orde Baru khawatir Bung Karno membongkar tuntas intervensi negara adidaya Amerika Serikat dalam kudeta kekukuasan di Indonesia,
11 Maret 1966. Walaupun akhirnya MPR pada tahun 20224, mencabut TAP MPRS nomor XXXIII tanggal 12 Maret 1967.
Terlambat sudah.Sebab Bung Karno sudah istrihat di liang kubur Pemakan Blitar Jawa Timur.
Fakta sejarah menunjukkan,
trauma politik rejim Orde Baru sungguh menghantui keluar besar Bung Karno.Akibatnya, putra sulung Bung Karno: Ir Guntur Soekarnoputra,
alumni Institut Teknologi Bandung/ITB tahun 1966, putus harapan mengikuti jejak politik sang ayahanda yang dijuluki Putra Fajar dari Timur.Sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia/GMNI di ITB, diawasi ketat oleh pihak intelijen negara dan dikekang hak bersuaranya.
Partai Nasional Indonesia Bung Karno
Untuk menghilangkan pengaruh Partai politik/Parpol PNI besutan ayahanda Guntur Soekarnoputra, penguasa Orde Baru melakukan fusi Parpol tahun 1971.
Lima Parpol: PNI, Parkindo, Partai Katolik,
Partai Ikatan Kemerdekaan Indonesia dan Murba berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia/PDI.Dengan tujuan agar lebih mudah dikendalikan penguasa.
Buktinya, sejak Ketua Umum PDI Mohammad Isnaeni hingga Surjadi, sangat intens intervensi kekuasan rejim otoriter Orde Baru.
Menghadapi tekanan politik dari pemerintah, Sekretaris Jenderal PDI Sabam proaktif mendekati putri Bung Karno: Megawati Soekarnoputri agar masuk gerbong PDI.Berkat dukungan suaminya, Taufik Kiemas,
Megawati bersedia masuk gerbong PDI.Kemudian, terpilih jadi anggota DPR/MPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah tahun 1987.
Sebagai Legislator, Megawati memegang prinsip suku Jawa: Kalau ingin berkuasa, tidak perlu kekuatan ditunjukkan.Karena itu,
selama dua periode duduk sebagai anggota DPR/MPR, Megawati tetap menahan diri tidak terpancing buat statement politik.Dia memilih sikap diam agar tidak dicurigai berambisi kekuasaan.
Dalam Kongres PDI di Surabaya, Jawa Timur tahun 1993, pemerintahan Soeharto masih intervensi agar peserta Kongres tidak memilih figur Megawati Soekarnoputri yang lagi naik daun.
Karena sosok Megawati dianggap pemersatu, peserta Kongres memilih putri biologis Bung Karno itu menjadi Ketua Umum PDI periode 1993-1998.Kemudian dikukuhkan melalui Musyawarah Nasional di Ancol Jakarta, Desember 1993.
Karena pemerintah terus mengintervensi dengan memanfaatkan konflik internal Parpol PDI,
dibentuklah Kongres PDI di Medan tahun 1996. Dengan penuh rekayasa, terpilih lagi Surjadi jadi Ketua Umum periode 1993-1998.Akhirnya, muncul Ketua Umum PDI kembar: Pimpinan Megawati Soekarnoputri hasil Kongres Surabaya dan Surjadi hasil Kongres Medan.
Kesabaran Ketua Umum PDI Megawati akhirnya memuncak ketika kubu Ketua Umum PDI Surjadi yang dibantu jajaran Kodam Jaya mengambil alih kantor Pusat PDI di Jalan Diponegoro, tanggal 27 Juli 1996.Kubu Megawati terus berjuang hingga terjadi penyerangan dan menimbulkan puluhan orang kehilangan nyawa.
Kemudian, kantor Pusat PDI di Jalan Diponegoro dikosongkan dengan status quo.
Kantor PDI Perjuangan pimpinan Megawati pindah ke Lenteng Agung Jakarta hingga Presiden Soeharto lengser, 21 Mei 1998. Pada Sidang Umum MPR, 20 Mei 1999,
terpilih KH Abdurrahman Wahid, sapaan akrab Gus Dur sebagai Presiden RI mengantikan Soeharto dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.Dua tahun berikut, 21 Juli 200: Presiden Gus Dur diberhentikan dan diganti Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dengan demikian, ungkapan: "Dang dao tubis sian bona na," tampaknya relevan dianalogikan dalam kehidupan bernegara.
Dinasti Presiden Dr (HC) Ir Soekarno menorehkan tinta emas kepada putri biologisnya Prof Dr (HC) Dyah Permata Soekarnoputri menduduki tahtah kekuasaan Presiden Indonesia yang kelima setelah ayahandanya Bung Karno.
Demikian juga Presiden ketujuh Ir Joko Widodo, sapaan akrab Jokowi menorehkan tinta emas kepada putra sulungnya Gibran Raka Buming menjadi Wakil Presiden RI periode 2025-2029.
Dalam kurun waktu lima tahun ke depan,
diprediksi Presiden RI keenam Jend (Purn) Dr Soesilo Bambang Yudhoyono/SBY juga bakal menorehkan tinta emas kepada putra keduanya Mayor (Purn) Dr Agus Harimurti Yudhoyono yang kini menduduki jabatan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan di Kabinet Merah Putih menjadi Wakil Presiden RI.Apalagi disandingkan dengan Presiden petahana Jenderal (Purn) Prabowo Subianto.
Berarti dalam perjalanan sejarah bangsa 20 tahun ke depan, tepatnya pada pada tahun emas 100 tahun Indonesia merdeka 2045,
sudah bisa diprediksi calon pemimpin bangsa Indonesia: "Dang dao tubis, sian bona na." Artinya, dinasti kekuasaan semakin kokoh ditancapkan di bumi Nusantara.
Kecuali muncul tokoh monumental seperti Gubernur New York Amerika Serikat termuda Zohran Madani (35 tahun) sebelum tahun emas 2045.
( Hardi / Ludin.P)